Profil
Sejarah
Visi
Misi
Tujuan
Lambang
fasilitas
Kurikulum
Kesiswaan
Humas
Ketenagaan
ExKul
Pramuka
PKS
Karate
PMR
Vokal
Seni Tari
Program Keahlian
Akuntansi
Sekretaris
Penjualan
Tata Boga
Tata Kecantikan
Tata Busana
Pendaftaran
Info PSB
Calon Siswa
Blangko Daftar
Lain-lain
Alumni
PSG
Kolega
Komentar

Sejarah SMK N 1 Salatiga

Pada tahun 1967 di Salatiga belum ada Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri, konon, pada tahun itu pula dibentuklah panitia pendiri SMEA Persiapan Negeri yang diketahui oleh Bapak Walikotamadya Salatiga (Bp.Letkol S.Soegiman pada waktu itu),dan di dukung oleh Bapak-bapak Muspida. Dengan ijin atau persetujuan kepala kantor perwakilan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Jawa Tengah No.IDPE/435/D/67, tanggal 17Januari 1967, maka berdirilah SMEA Yang berstatus persiapan di Salatiga. Atas dasar surat Bapak Kepala Kantor Perwakilan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Jawa Tengah tersebut, maka kami tingkatkan permohonan kami ke Departemen Pendidikan dan Kebudayaan di Jakarta agar kiranya ditingkatkan status SMEA persiapan menjadi SMEA Negeri Dengan surat Kepala SMEA persiapan Negeri No.M/30/115 tanggal 25 Mei 1968,yang dilampiri rekomendasi dari IDPE propinsi Jawa Tengah ,alhasil turunlah surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor:191/UUK-3/1969 tanggal 25 Mei 1968, yang memberi peningkatan status persiapan menjadi Negeri. Turunnya Surat Keputusan Menteri tersebut membuat hati Kepala Sakolah, Guru dan Staf Tata Usaha Serta para siswa-siswi menjadi gembira bercampur bangga. Namun dibalik Kegembiraan tersebut masih prihatin, sebab SMEA Negeri pada waktu iitu belum memiliki Gedung sekolah sendiri.Atas dasar jasa dan budi baik dari dari Kepala SMEP Negeri Salatiga (Walaupun pada waktu itu SMEP Negeri juga masih menumpang di asrama SPG Negeri Salatiga )dipinjamilah SMEA Negeri ini sebanyak 4 lokal dan masuk pada siang hari , Pimpinan Sekolah pada waktu itu ditunjuk Bapak Sri Sadana ,B.A. (Almarhum). Pada tahun berikutnya SMEA Negeri Salatiga diberi kesempatan untuk menempati Gedung Bangsal Kesenian milik SPG Negeri Salatiga dan masuk pagi hari. Perlu diketahui bahwa bangsal tersebut masih terbuka , tanpa penyekat dan tanpa pintu.Oleh karena itu ruang yang luasnya kira-kira 300 M2 dibagi lima dalam ruangan dengan skat dinding bambu yang berlubang- lubang ,sehingga sering terjadi keributan.bila murid-murid sedang diberi pelajaran ,murid yang lain menggangu lewat dinding tersebut .Karena sekat antara kelas yang satu dengan kelas yang lain mengganggu kelas-kelas yang llain.Untuk mengatasi polusi suara itu lalu diadakan semacam konsensus oleh para guru,yaitu bila kelas yang satu gurunya mengajar,kelas yang lain harus menulis.Namun sesekali juga terjadi terpaksa semua Guru mengajar lisan,Sehingga suara Guru itu tumpang tindih saling mengisi, menyebabkan murid-murid sering bingung untuk membedakan mana suara Guru kelasnya dengan suara Guru kelasnya dengan suara Guru dikelas lain.
Kemudian tahun berikutnya ,yaitu pada tahun 1970 SMEA Negeri Salatiga mendapat pinjaman 4 lokal milik SMA Negeri di jalan Kemiri walaupun dengan syarat masih harus menyelesaikan bangunannya terlebih dahulu . Jalannya proses belajar mengajar boleh dikatakan lancar,ganguan atau polusi suara dari kelas yang berhimpitan sudah dapat teratasi. Yang menjadi problem baru ialah masalah tranportasi Guru.Mereka harus mondar-mandir dari kelas yang berada di SPG Negeri ke kelas yang ada di SMA Kemiri kurang lebih 2 Km dengan mengayuh sepeda. MASA PERKEMBANGAN

Kiranya Tuhan memperhatikan Doa dari para guru dan staf tata usaha dan siswa-siswi .Angin segarpun datang meniupkan suasana baru bagi SMEA Negeri yang masih diliputi dengan penuh perjuangan .Pada tahun 1973 SMEA Negeri atas perkenan Bapak Walikotamadya Salatiga, yang pada saat itu dijabat oleh Bapak Letkol.S.Soegiman diberi ijin untuk menempati gedung bekas Sekolah Cina milik BAPERKI yang digunakan proses brlajar mengajar.Mula-mula gedung yang hanya terdiri dari 6(enam) Lokal disebelah barat beserta Aula yang sekarang digunakan untuk menyimpan barang Inventaris (Meja Kursi guru).awal mulanya aula tersebut disekat-sekat digunakan digunakan 3 (tiga) lokal untuk mencukupi ruang belajar ,dan sebagaian untuk ruang guru/ruang Tata Usaha.

Setahun kemudian didirikan ruang belajar disebelah timur oleh BP3 dibantu oleh pemda setempat. Ruang-ruang belajar tersebut pernah direhab dengan dana pelita pada tahun 1983 sehingga menjadi baik,dan dapat digunakan keterangan belajar ./selain ruang tersebut ,juga ruangan belajar disebelah utara serta ruangan perpustakaan pernah direhab dengan dana pelita tahun 1984. Beberapa tahun kemudiannsetelah jumlah kelas menjadi 15 lokal dengan diikuti perkembangan alat-alat teori maupun praktek siswa serta tempat sepeda dan lapangan Volley Ball serta rehap lapangan tennis dan pagar keliling. Tanah lapangan dan bangunan SMEA Negeri Jl. Jend. A. Yani 14 Salatiga pada saat ini masih dalam proses penyertifikatan. Pada akhirnya SMEA Negeri Salatiga telah selesai dibangunkan oleh Negara, gedung yang baru dilokasi Desa Kembangarum kurang lebih 15.000 M2 (tanahnya) dan ruang teori ada 18 kelas biaya pembangunan dari ADB (Asean Development Bank), menghabiskan dana sekitar 1.7 milyar dan termasuk Voced II (Second Vocational Education). Demikian pula perabot dan peralatan prakteknya dilengkapi, juga dengan dana dari ADB sekitar 2 milyar. Sejak tanggal 1 Agustus 1992 SMEA Negeri Salatiga menempati gedung baru. Boyongan keluarga besar SMEA Negeri Salatiga beserta alat-alatnya dengan upacara yang dihadiri pula bapak Kakanwil Depdikbud Propinsi Jateng beserta ibu dan para pejabat setempat. Pada saat boyongan baru kelas I dan kelas II yang pindah kelokasi baru, adapun kelas III tetap diJl. Jend. A. Yani 14 Salatigha hingga akhir Maret 1993. gedung baru memiliki alat teori dan alat praktek yang lengkap terdiri dari ruangan teori dan praktek dan ruangan pertemuan serta laboratorium bahasa, dll. Dengan lengkapnya peralatan teori dan praktek, maka SMEA Negeri Salatiga dituntut untuk meningkatkan mutu pendidikan dan menghasilkan tenaga siap pakai. Pada awal tahun 2000 jumlah peralatan praktik berupa komputer yang dapat digunakan untuk KBM hanya 10 unit, sehingga konsentrasi pada tahun ajaran tersebut adalah usaha untuk pengadaan komputer sebagai alat praktik siswa. Secara bertahap dari tahun ke tahun dimintakan sumbangan kepada orang tua siswa kelas I. Kepala Sekolah bersama 1 orang Wakil Kepala Sekolah di undang workshop di PPPG Jakarta selama 1 minggu, dan diminta memaparkan (melaporkan) bagaimana keadaan SMK 1 Salatiga meliputi kemampuan yang ada, tantangan, hambatan serta peluang. Berawal dari workshop pada tahun 2000 berlanjut pada tahun 2001 SMK 1 Salatiga diundang di Direktorat untuk angkatan I. Sekolah Standar Nasional berjumlah 40 SMK. Berdasar kesepakatan rapat staf pimpinan program keahlian Penjualan di sepakati untuk diangkat mewakili SMK 1 sebagai progran keahlian berstandar nasional. Asistensi manajemen sebanyak 3 kali selama tiga tahun berturut-turut, yakni pada tahun 2001, 2002, dan 2003. petugas yang hadir adalah instruktur (Widya Iswara) program keahlian penjualan dari PPPG Sawangan Jakarta.
Pada awal tahun pelajaran 2003-2004 Kepala Sekolah diundang ke Jakarta oleh Dir Dik Menjur untuk mengikuti workshop SMK Besar Se-Indonesia. Jumlah sekolah yang diundang pada tahap I tersebut 40 sekolah. Dari hasil kegiatan tersebut dapat di simpulkan bahwa saat itu Direktur Dikmenjur mengharap bagi SMK yang memungkinkan dilihat dari letak geografis bangunan, animo pendaftar serta fasilitas sarana-prasarana agar dapat dikembangkan menjadi SMK Besar. Apabila Pemda setempat mendukung maka dari pusat disediakan dana Rp. 250.000.000,- ( Dua ratus lima puluh juta rupiah ) untuk tiap tahun selama tiga tahun berturut-turut. Pengembangan SMK 1 menjadi SMK Besar pada tahun pertama 2004-2005 menerima 10 kelas, terdiri dari Akuntansi 2 kelas, Administrasi Perkantoran 2 kelas, Penjualan 2 kelas, Tata busana 2 kelas, Tata Boga 2 kelas, dan Tata Kecantikan 1 kelas. Pada tahu kedua dan ketiga ( 2005-2006 dan 2006-2007) penerimaan Siswa baru sebanyak 12 kelas, masing-masing program keahlian 2 kelas, sehingga komposisi kelas saat ini, kelas III 10 kelas, kelas II 12 kelas dan kelas I 12 kelas, total kelas di SMK Negeri saat ini 34 kelas, adapun jumlah siswa


Adapun urutan Kepala Sekolah yang menjabat adalah sebagai berikut :
1. Sri Sadana, BA (Almarhum) Tahun 1968 s/d tahun 1982
2. R. Soeyono, MH (Almarhum) Tahun 1982 s/d tahun 1993
3. Drs. Soeparmo (Ymt Kepsek) Juli 1993 s/d September 1994
4. Drs. FX. Soewito, Januari 1994 s/d Januari 1996
5. Drs. S. Djoko Legowo, Februari 1996 s/d Desember 1998
6. Soetopo, B.Sc, 1 Desember 1998 s/d 1 Juni 1999
7. Moh. Baedhowie, Mei 1999 s/d Januari 2000
8. Moeljono, M.Pd, 1 Januari 2000 s/d 28 Februari 2007
9. Bambang Dwi H, S.Pd. 28 Februari 2007 s/d Sekarang